Itulah kalimat yang sedianya pantas untuk saya lontarkan. Berbagai isu yang silih berganti, membuat tembok-tembok manusia merapuh. Arus yang terlalu kuat mampu membeli akal manusia hingga "stereotype" terbangun tepat pada titik inti pemikiran manusia. Hitam-putih, besar-kecil, jauh-dekat, menang-kalah. Lebih dari itu, berbagai hal kini dipandang dengan sejumlah mata manusia. Tanpa memperdulikan fungsi mata, POKOKNYA MATA SAYA DUA!
Dunia pun tak lagi muda, mengingat umurnya yang menginjak angka di abad ke-20. Ibarat manusia, kehidupan dunia ini kembali. Kembali pada apa yang dahulu pernah kita usahakan. Seakan lupa rasa susahnya perjuangan, semua berputar kembali. Memulai semua dari nol, bahkan minus. Untuk apa? "Memperjuangkan keadilan" katanya. Tapi bukankah keadilan itu hanya rasa tabu yang ada karna kita merasa nyaman? Jika tak lagi nyaman, maka bagi kita itu tak adil tentunya.
Ingat cerita yang sering diungkap perihal keadilan? Cerita lama yang cukup memberi gambaran ringan bagi kawula muda. Begini, ada manusia dalam perjalanan yang berhenti untuk meneduh dibawah pohon. Dia tenang sejenak untuk menikmati oksigen yang gratis diberikan oleh helai-helai daun yang melambai. Menghadap ke langit, dia mengamati apel kecil yang bergelantungan. Sambil menggerutu, dia membandingkan pohon apel itu dengan pohon pepaya yang memiliki buah besar dengan pohon yang tak begitu tinggi. Tidak adil bukan? Tapi pernahkah membayangkan jika kita berteduh di bawah pohon besar yang berbuah besar juga? Jika buah itu jatuh, benjutlah kepala dia.
Dari cerita itu saja kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa adil tak harus sama. Dan sama itu tidak berarti adil. Semua hal punya perkaranya masing-masing. Dan hal itu tercipta juga bukan tanpa pertimbangan. Masihkah kita sebagai manusia menuntut janji keadilan yang telah diungkapkan oleh dunia? Atau semestinya kita menerima apa yang dunia berikan pada kita.
Manusia terlalu sibuk dengan berbagai pertentangan hingga sepertinya lupa bahwa awal mula kehidupan ini, semua gratis dan bebas untuk manusia nikmati.
KOMERSILISASI DUNIA. Sebuah topik yang luput dari pembahasan, setelah apapun yang dunia berikan pada umat manusia diperjual belikan demi keuntungan pribadi. Seolah penemu, mereka bebas untuk meraup sebanyak-banyaknya dan mungkin melupakan bahwa ada hak setiap individu lain atas barang itu.
Percaya atau tidak, kepemilikan atas suatu hal milik umum pasti menguntungkan. Mengapa? "Lha wong milik umum, berarti semua orang butuh dong" itulah kata nalar manusia biasa yang menulis paragraf ini. Dan tentunya membuat tiap orang berlomba untuk memperebutkannya. Karna sifat manusia yang selalu ingin berkompetisi dan mencari keuntungan.
Jadi, dunia atau sifat manusia yang perlu dituntut? Bukalah mata kita yang dua. Lihatlah dengan akal, mana kah yang harus kita salahkan? Yang memberi segala yang kita butuhkan atau yang mengambil segalanya dengan dalih apapun. Ketahuilah, politik bukan sekedar urusan pemerintahan. Kepentingan swasta pun termasuk politik busuk yang seharusnya kita sudahi
08-02-18
-andrnf-


